Friday, June 1, 2012

Diary Cinta 17 Pelangi


"Memendam perasaan itu menyakitkan, berpura-pura untuk mengacuhkannya. Padahal ingin sekali menarik perhatiannya. Hhh. ."
Untaian kata ini mampu membuatku tersenyum simpul di depan jendela kamarku.
Tulisan dari hati yang ku sirat di sebuah diary kecil. Diary yg selalu jadi teman terbaikku semasa SMA ku dulu. Berawal dari Masa itu, mengingatkanku saat-saat dimana ku mengaguminya, tanpa seorangpun yg tau ..

                Pagi itu, pertama kalinya ku menginjakkan kaki di gerbang sekolah baruku.
Namaku Anindita Aqvara. Biasa di panggil Anin.
                Embel-embel anak ingusan sudah ku buang jauh-jauh. Rasanya ingin sekali berteriak pada dunia, aku terdaftar sebagai siswi SMA ADIJAYA sekarang. Sekolah bergengsi di wilayahku.
                "Hoi ! Ngelamun aja. Ayo cepet masuk ntar telat." Ucap Uni membuyarkan lamunanku.
                "Eh iya. Duh, aku takut nih. Hari pertama MOS ntar gimana kalo di kerjain yg aneh-aneh?" cerocosku mengungkap sedikit kegelisahanku.
                "Udahlah, ayo masuk aja" Tanpa mendengar jawabanku dia langsung menarikku masuk menuju ke halaman sekolah. Tempat dimana semua peserta MOS berkumpul.
                Suasana nampak hening, ternyata upacara baru akan dimulai.
Huufff, aku sempat bersyukur Uni menegorku di gerbang tadi. Karna kalau tidak mungkin aku akan telat mengikuti upacara ini.
                Upacara Pembukaan ini pun berjalan khidmat.
Kuperhatikan banyak peserta MOS yg diam, bukan karna menyimak pidato pak kepsek. Tapi kurasa mereka mengantuk. Pagi-pagi gini upacara pastinya sangat membosankan.
Hatiku berdetak tak karuan saat pandanganku tertumbuk di salah satu siswa tak jauh dari tempatku.
                Dia.
                Ya Tuhan. Aku bertemu lagi. Aku tak menyangka hal ini bisa terjadi.
                Aldio Anggara. Teman 1 grup musikku dulu. Memori itu berputar kembali di otakku, suka duka aku lewati dengannya. Dia sangat baik padaku, dan selalu menjagaku.
Dia .. Dio-ku yang sudah menabur benih asmara yang kini belum usai.
                "HEI! Cepat masuk ke kelas! Ngapaen masih bengong disini hah?" bentak salah satu panitia MOS yang hampir saja membuat jantungku mencelos. Ternyata saking keasyikan mengingat masa lalu, aku tak menyadari upacaranya sudah selesai. Dasar Panitia sok galak! Gerutuku, dan dengan segera aku berlari menuju kelasku.
                Aku sempat berharap, bisa sekelas dengannya. Namun, harapan itu harus ku pupus. Aku tak tau berada di kelas apa dia sekarang. Masa MOS sudah terlewati, dan kini aku menikmati masa-masa sibukku sebagai siswi SMA. Aku juga mempunyai banyak teman disini.
                Semuanya berjalan datar, dan tentang diapun sudah ku kubur rapat-rapat. Aku tak boleh mengharapkannya, ini hanya perasaan sesaat, itu yang selalu aku yakini. Namun rupanya kisah itu belum usai, setelah 2 tahun kemudian, tepat disaat aku berada di depan Mading sekolah melihat daftar pembagian kelas XII. Aku melihat namanya di deretan teman sekelasku.
Untuk kali ini aku harus menghembuskan nafas pasrah.
Bukan berarti selama kelas X dan XI aku tak bertemu dengannya, hanya saja aku berusaha untuk tidak sekilaspun bertemu. Aku tidak mengerti perasaan macam apa ini. Hhh ..
                "Ehem.." suara deheman laki-laki di belakangku membuyarkan lamunanku
                "Boleh minggir bentar gak?" sautnya lagi.
Tanpa ku jawab, aku langsung pergi menuju kelasku.
                "HAI ANIN" suara cempreng menyambut kedatanganku, siapa lagi kalau bukan Uni. Temanku yang sudah menemaniku selama 3 tahun ini. Ya! Aku selalu sekelas dengannya. Dan aku bersyukur akan hal itu.
                "Hai juga cerewet!" balasku sambil tersenyum. Terlihat Uni sedikit memanyunkan bibirnya, kemudian ia mendekatiku dan duduk kursi yang berada di sampingku.
                "Aku ga crewet tau! Oh ya, kamu tau gak si Aldio itu?"
Deg ! Ngapaen ni anak tanya tentang dia?
                "Ngga, kenapa emang?" bohongku.
                "Masa sih gtw? Yang biasa di panggil Al itu lho?" jawabnya.
Tepatnya aku gak mau tau Uniiii. Dan dia Dio-ku bukan Al. Jerit batinku.
                "Emang penting gitu tau dia?" balasku berusaha terlihat setenang mungkin.
                "Nih aku kasih tau ya. Dia itu anak basket, pinter maen drum, tinggi, cakep lagi. En sekarang dia masuk kelas ini juga. Huaaa” Ucap Uni mulai berlebihan.
Aku hanya bisa diam, berusaha tak mau membalas ucapannya.
                "Dan dia juga setia. Buktinya dari smp sampe sekarang dia awet-awet aja tuh sama si Vita adek kelas kita." Hal ini yang paling tak mau aku dengar. Hatiku sakit.
                Melihat responku yang hanya diam, Uni hanya mendengus pelan. "Kamu kenapa sih? Sakit?" "HOI ANIN!" teriak Uni setelah tak mendapat respon dariku.
                "Eh apaan? Pelan-pelan dong ngomongnya. Budeg nih." balasku sambil mengelus-elus telingaku.
                "Aku ngomong pelan tp ga di dengerin tau sama kamu." Ucap uni sambil memanyunkan bibirnya, lagi.
                "Hehehe sorry." cengengesku.
                "Yaudah aku pulang aja deh, mau nebeng gak?" tawarku.
                "Lho? Emang gak ada pelajaran?" tanya Uni.
                "Gak ada. Hari ini gurunya pada rapat. Ayo, ikut gak?" balasku kemudian beranjak meninggalkan Uni.
                "Hayo deh." dan dgn segera ia mengambil tasnya kemudian mengikutiku.

                Entah kenapa aku berharap agar waktu berjalan sedikit lamban, aku tak siap menghadapi hari ini. Hari dimana aku harus mulai membiasakan diri dengan kehadirannya lagi di setiap hariku kedepan.
Keburukanku terlalu memikirkan sesuatu dengan berlebihan, dan efeknya jadi gini deh. Aku telat! Mana hari pertama pelajaran. Huh!
                Tepat saat aku diambang pintu, Bu Sri baru akan memulai pelajaran. "Maaf Bu, saya telat" ucapku.
                "Ckck. Ya sudah sana duduk." Aku mulai mencari bangku kosong. Uni terlihat sudah nyaman duduk di bangkunya dengan seorang cowok yang kutau namanya adalah Adi. Huh dasar!
Hanya sisa satu bangku kosong. No 2 dari belakang, di depan seorang cowok yang kulihat sedang, mm. . Tidur !
                "Parah ni anak masih pagi gini udah molor. Dasar Pemalas!" Tanpa kuduga, aku mencibirnya dengan suara pelan.
                "Aku gak tidur" hanya itu ucapnya.
Dan aku mulai menyadari siapa empunya suara itu. Suara yang persis sama saat seseorang menegorku di depan Mading sekolah kemarin. Kali ini aku harus menahan napasku sejenak, atau mungkin selamanya. Aku tak berani melihatnya.
                "Dan stop untuk mengacuhkanku, Dita." ucapnya lagi.
Yang kali ini mampu meruntuhkan dinding ketidakpedulian yg kubuat.
Apa katanya? Dita? Bagaimana mungkin dia masih ingat nama itu?
Dita adalah nama kecilku, dan hanya orang-orang tertentu yang memanggilku seperti itu.
Aku tak tau harus bersikap seperti apa sekarang, dan lagi-lagi aku memilih untuk mengacuhkannya. Hanya terdengar dengusan pelan sebagai respon dari tindakan yang kuambil.
Hari-hari masa terakhir SMA-ku terasa lebih berat. Aku berusaha untuk lebih fokus pada pelajaran, namun ternyata tak segampang itu.
Akupun memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Dega.
Teman dekat Dio. Hal ini kuputuskan karena aku sudah gerah melihat kedekatan Dio dan Vita. Sudah cukup setiap hari hatiku panas berada di dekatnya. Aku butuh seseorang di dekatku. Dan kuputuskan menerima cinta Dega. Tentu saja Dega sangat senang sekali. Ia sudah menyukaiku sejak kelas XI. Namun, aku memilih mengabaikannya. Dega sangat baik, dia tulus mencintaiku. Dia juga menjagaku.
Meskipun aku terkadang risih atas sikapnya yang terlalu berlebihan. Ya, aku tidak menyukai sikap yang terlalu over. Namun aku berusaha menghargainya.
Sebenarnya aku tidak begitu mencintai Dega. Aku sangat merasa bersalah mengingat hal itu.

Sore itu Pertandingan Basket Antar sekolahku dan SMA Bima Sakti.
Dega memintaku menyemangatinya, sebenarnya males sekali. Apalagi harus bertemu dengan si kutu kupret Dio-ku. Aarrggghh, mencoba sebenci apapun padanya, aku tetap saja menganggapnya Dio-ku. Bodoh! Pabo!

Sekarang aku berada di tengah lautan murid SMA ADIJAYA, mereka tak henti-hentinya meneriaki yel-yel sekolah kami.
Aku bingung harus bagaimana? Sifat plinplanku ini kadang membuatku ilfiil sendiri.
Aku menyukai keramaian, karna itu berarti aku tidak sendiri. Tidak kesepian.
Aku bersorak-sorak mengikuti yang laen, dan tidak merasa malas lagi berada di tempat ini. Kadang aku merasa aneh terhadap sifatku yang cepat sekali berubah.
Terlihat Dega melambaikan tangan padaku dan tersenyum, aku membalas senyumnya.

Pertandingan berjalan ketat, tiap kali Dega menshooting aku bersorak gembira. Dega terlihat bahagia atas tingkahku kali ini.
Kemenanganpun di raih sekolahku,
seusai pertandingan, aku langsung memberikan handuk dan air minum yang kubawa kepada Dega. Sejenak kemudian saat kualihkan pandanganku, aku melihatnya! Dengan vita yang bergelayut manja di lengannya!
                "Ih norak! Cantikan juga aku! Ih dia juga ngapaen gitu amet! Dasar curut!" Tak sadar aku mengumam pelan hal tersebut.
                "Sapa yang curut?" Tanya Dega.
                Ups. Aku kelabakan. "Ngg. . Ga ada kok. Eh udah kan? Yuk pulang."
Dia langsung menurutiku. Tumben. Kemana sifat over protectivenya?
Selama di perjalanan, Dega hanya diam.
Ini membuatku bingung. Biasanya dia yang selalu memulai pembicaraan. Hingga sampai di depan rumahpun dia hanya mengecup sekilas puncak kepalaku dan pamit pulang. Tanpa wanti-wanti yang biasanya tak pernah lupa ia ucapkan.
                "aku sayang kamu" ucapnya, dan ia pun bergegas pulang.
Baru saja aku akan menutup pintu
DUARR!!
Aku kaget bukan main, segera kuberlari keluar.
Ya Tuhan! Tubuhku lemas! Kulihat tubuh Dega bersimbah darah di tengah jalan. Tak jauh terlihat mobil yang ringsek dan sepeda Dega yang berada jauh. Rupanya Dega terpental jauh tanpa helm yang entah terlepas dimana.
Segera ku menghampiri dan mendekap tubuhnya.
                "DEGAAA!" Aku histeris dan menangis. Orang-orangpun mulai ramai.
                "BANGUN. AKU SAYANG KAMU"
Aku sayang kamu? Tubuhku bergetar hebat. Apa yang sudah kuucapkan? Benarkah itu dari hatiku?
Aku teringat ucapan sesaat sebelum Dega pamit pulang. Kata itu! Tangisku kembali pecah di hadapan tubuh kaku Dega.
Aku tak tau lagi harus bagaimana. Aku jahat. Aku bodoh. Semua hal berkecamuk di pikiranku saat ku lihat tubuh Dega di bawa ke ambulance.
                "DEGAAAA" Histerisku.
                "Sudah, tenangkan dirimu." Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang.
Kusadari itu suara Dio, tiba-tiba aku merasa sangat benci padanya. Sangat.
                "Pergi kamu! Pergi! Puas kamu? Sudah menyiksa perasaanku? Dan membuatku mengabaikannya? Pergi!" Ucapku kalut. Nampak ia sedikit shock atas responku dan kejadian ini.
                "Tenang Dita. Aku tak tau bagaimana semua ini bisa terjadi."
Aku mencoba berontak namun dekapannya terlalu kuat.
                Setelah merasa aku sedikit tenang, ia mulai bicara. "Tadi, aku hanya mendapat pesan dari Dega agar aku menjagamu. Aku tak tau maksudnya apa, makanya kuputuskan untuk kerumahmu." Dia mulai menjelaskan
                "Aku Jahat, Aku membohonginya" balasku tak mampu membendung air mata.
                "Sstt .. Sudah, semuanya akan baik-baik saja"
                Mendengar jawabannya darahku mendidih. Aku melepaskan diri dari dekapannya. "SEMUANYA TIDAK BAIK-BAIK SAJA" Bentakku dan kemudian meninggalkannya.

                Sudah kuputuskan, aku akan pergi. Aku sangat merasa bersalah atas kejadian yang membuat nyawa seorang yang tulus mencintaiku pergi. Aku akan melupakan segalanya, termasuk tentang Dio-ku.
Aku akan pergi keluar negeri untuk menamatkan masa SMA-ku dan melanjutkan kuliah disana.

“Semua ini terlalu berat. Maafkan aku Dega yang selalu mengecewakanmu. Aku salah. Karena perasaan ini terlalu kuat. Aku tak mampu melupakannya.
Aku tak menyesal aku masih mempunyai rasa ini. Bagaimanapun Aku mencintainya. Dio-ku. Satu nama yang tak pernah mampu kubuang.
Hingga kini kuputuskan untuk pergi. Cinta bukanlah kesalahan. Dan tak pantas untuk di sesali. Biarlah cinta ini kubawa pergi bersama ukiran di hatiku.
Anindita Aqvara
love
Aldio Anggara"
                Itulah tulisan terakhir yg kusirat di Diary ini. Semua kejadian yang kualami tak satupun luput ku tulis. Namun, kuputuskan tak akan membawa diary ini. Aku mungkin akan tetap mencintainya namun aku tak mau selalu terbayang akan cerita kelam ini.

                Hari keberangtanku pun tiba, aku sempat membayangkan seseorang memohonku untuk jangan pergi. Ck! Ini konyol! Keputusanku bulat
Aku akan tetap pergi. Dan aku pun pergi dengan pasti.

                Lamunanku berakhir, kututup diary mungilku saat kurasa dekapan hangat di pinggangku. "Hayo ngelamunin apa? Pasti Aku ya?"
                Aku tersenyum bahagia atas semua hal yang terjadi, hingga takdir membawaku pada kenyataan manis hari ini.
                "Istriku ini memang selalu mengacuhkanku, huh!" omelnya yang sedetik kemudian ciuman manis mendarat di pipiku.
                Aku terkekeh pelan. Sampai sekarangpun aku masih tak menyangka atas semua keajaiban mengagumkan ini.
Ya. Sejak sebulan lalu, aku resmi menjadi Ny. Anggara.
Keputusanku untuk meninggalkannya, membawaku kembali berada di dekapannya.
Saat itu kuputuskan pergi dan meninggalkan apapun yang berhubungan dengannya, termasuk diary kecil ini.
                Siapa sangka, di hari kepergianku ternyata dia mencariku ke rumahku. Melalui diary ini yang ditemukannya, ia mengetahui semua kebenarannya. Dan sebuah keajaiban yg luar biasa bagiku, ternyata diapun mengalami hal yg sama sepertiku. Memendam perasaannya terhadapku, karna sebuah janji kepada adrian yang notabenenya adalah kakak Vita. Adrian merupakan teman sepermainan Dio, namun ternyata ia mengidap penyakit mematikan, Kanker Otak. Maka saat Adrian memintanya untuk menjaga vita di akhir hidupnya, ia menyanggupinya. Kemudian ia mengabaikan perasaannya sendiri, hingga vita menyadari hal itu, bahwa perasaan Dio hanyalah sebatas rasa ingin menjaga bukan cinta. Vita pun menyuruh Dio untuk mengejar cintanya. Namun, saat itu aku sudah pergi meraih asaku.

                Beberapa tahun kemudian aku memutuskan kembali ke negaraku, entah dari mana dia tau semua informasi tentang kedatanganku, yang pasti aku sangat kaget saat kulihat orang yang pertama menyambutku dengan sebuket bunga mawar di depan pintu keluar bandara.
Kemudian semua penjelasan diatas terucap mulus dari mulutnya saat itu juga.
Dan nampaknya ia sudah tak mau kehilanganku lagi, karna saat itu ia langsung melamarku. Aku hampir saja tak sadarkan diri pada saat itu. Ini sangat mendadak. Namun aku sangat bahagia. Dan, tentu saja. Ya ! Aku menerimanya. Karna akupun sebenarnya sangat mengharapkannya.

                "Pasti gara-gara diary ini kan?" ia mengambil benda tersebut dari tanganku, dan menaruhnya di atas meja yang berada di belakangnya. Aku hanya mampu tersenyum, aku sangat bahagia. Bahagia sekali.
                "Kenapa natep aku gitu? Suamimu ini memang tampan kan?" tak sadar aku menatapnya dalam, dan seperti lama.
                Aku terkekeh pelan dan langsung memeluknya "I love you. Selamanya mencintaimu" hanya itu yang mampu ku ucapkan pelan.
                "Love you too" Balasnya yg kurasa dia sedang tersenyum sekarang, dan ia membalas pelukanku erat. Pandanganku sedikit mengabur karna terharu, saat kulihat diary mungil diatas meja di depanku.
Diary 17 tahunku.
Diary yang mampu mengubah hidupku. Diary yang mengembalikan separuh jiwaku. untaian kata hati yang kusirat menciptakan pesona warna surga di duniaku.
Warna Keagungan Pelangi Cinta.

Karya: ST.Mufarrohah

0 comments:

Search

Loading...

Teman

Peringkat